CHOOSE YOUR LANGUAGE:

CHOOSE YOUR LANGUAGE:

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label KELUARGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KELUARGA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 April 2014

CUT NYAK DHIEN WANITA TANGGUH DARI ACEH

Rakyat Sumedang memanggil Cut Nyak Dhien dengan nama Ibu Perbu karena kesalehannya dan sebagai tanda penghormatan. Hingga akhir hayatnya, beliau mengisi waktu dengan mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat sekitar pengasinganya.

Cut Nyak Dhien lahir pada 1848 (tanggal dan bulan tidak diketahui) di Lampadang dari keluarga kalangan bangsawan yang taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang Uleebalang. Beliau mendapatkan pendidikan agama dan rumah tangga yang baik dari kedua orang tua dan para guru agama. Semua ini membentuk kepribadian beliau yang memiliki sifat tabah, teguh pendirian, dan tawakal.

Seperti umumnya di masa itu, beliau menikah di usia sangat muda dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Ketika Perang Aceh meletus tahun 1873, Teuku Ibrahim turut aktif di garis depan. Cut Nyak Dhien selalu memberikan dukungan dan dorongan semangat.

Semangat juang dan perlawanan Cut Nyak Dhien bertambah kuat saat Belanda membakar Masjid Besar Aceh. Dengan semangat menyala, beliau mengajak seluruh rakyat Aceh untuk terus berjuang. Saat Teuku Ibrahim gugur, di tengah kesedihan, beliau bertekad meneruskan perjuangan. Dua tahun setelah kematian suami pertamanya tepatnya pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar. Seperti Teuku Ibrahim, Teuku Umar adalah pejuang kemerdekaan yang hebat.

Bersama Cut Nyak Dhien, perlawanan yang dipimpin Teuku Umar bertambah hebat. Sebagai pemimpin yang cerdik, Teuku Umar pernah mengecoh Belanda dengan pura-pura bekerja sama pada tahun 1893, sebelum kemudian kembali memeranginya dengan membawa lari senjata dan perlengkapan perang lain. Namun, dalam pertempuran di Meulaboh tanggal 11 Februari 1899 ,Teuku Umar gugur. Sejak meninggalnya Teuku Umar, selama 6 tahun Cut Nyak Dhien mengatur serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Seluruh barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk biaya perang. Meski tanpa dukungan dari seorang suami, perjuangannya tidak pernah surut. Perlawanan yang dilakukan secara bergerilya itu dirasakan Belanda sangat mengganggu, bahkan membahayakan pendudukan mereka di tanah Aceh sehingga pasukan Belanda selalu berusaha menangkapnya.

Namun, kehidupan yang berat dihutan dan usia yang menua membuat kesehatan perempuan pemberani ini mulal menurun. Ditambah lagi, jumlah pasukannya terus berkurang akibat serangan Belanda. Meski demikian, ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah, beliau sangat marah. Akhirnya, Pang Laot Ali yang tak sampai hati melihat penderitaan Cut Nyak Dhien terpaksa berkhianat. la melaporkan persembunyian Cut Nyak Dhien dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya.

Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dhien, bahkan ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap dalam kondisi rabun pun masih sempat mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya. Beliau marah luar biasa kepada Pang Laot Ali. Namun,walau pun di dalam tawanan, Cut Nyak Dhien masih terus melakukan kontak dengan para pejuang yang belum tunduk. Tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda berang sehingga beliau akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, pada 11 Desember 1906.

Cut Nyak Dhien yang tiba dalam kondisi lusuh dengan tangan tak lepas memegang tasbih ini tidak dikenal sebagian besar penduduk Sumedang. Beliau dititipkan kepada Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja, bersama dua tawanan lain, salah seorang bekas panglima perangnya yang berusia sekitar 50 tahun dan kemenakan beliau yang baru berusia 15 tahun. Belanda sama sekali tidak memberitahu siapa para tawanan itu. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Pangeran Aria tidak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Masjid Besar Sumedang. Perilaku beliau yang taat beragama dan menolak semua pemberian Belanda menimbulkan rasa hormat dan simpati banyak orang yang kemudian datang mengunjungi membawakan pakaian atau makanan. Cut Nyak Dhien, perempuan pejuang pemberani ini meninggal pada 6 November 1908.

Beliau dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh, sebuah komplek pemakaman para bangsawan Sumedang, tak jauh dan pusat kota. Sampai wafatnya, masyarakat Sumedang belum tahu siapa beliau, bahkan hingga Indonesia merdeka. Makam beliau dapat dikenali setelah dilakukan penelitian berdasarkan data dari pemerintah Belanda.

Cut Nyak Dhien diangkat sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden: Keppres No.106 Tahun 1964, Tgl. 2 Mei 1964.

Minggu, 25 Agustus 2013

SENANDUNG NASYID UNTUK KALIAN HALA, HABIBAH, ASMAA DAN SELURUH SYAHIDAH MESIR

Sekuler liberal dimanapun juga memang biadab, ketika mereka berkuasa, mereka akan berusaha mengopinikan bahwa gerakan Islam adalah kumpulan barbar yang harus dicegah membesar. Mereka tebarkan isu dan fitnah untuk menghancurkan Islam dari dalam. Mereka sebut gerakan Islam radikal, fundamental, keras atau teroris. Mereka hembuskan berita jika kalangan Islam akan melakukan kudeta, mereka berlindung dengan mengatas-namakan pro rakyat, nasionalisme dan NKRI. Padahal merekalah yang menjual bangsa ini ke pihak asing.

Dan ketika mereka tidak berkuasa, justru merekalah yang melakukan kudeta dengan sangat keji. Ini sudah terjadi di Aljazair ketika partai Islam FIS menang pemilu dan berkuasa. Begitu juga yang terjadi di Mesir.
Mereka bersatu dengan musuh-musuh Islam yang lain untuk memberangus Islam, atau kalau perlu dengan membantai umat Islam dengan cara terkeji sekalipun.

Dalam akun facebooknya, Hudzaifah Abul Futuh menceritakan bagaimana kejamnya fasisme dalam pemakaman Asmaa, puteri Muhamad Beltaji, sekjen FJP. “Setelah keluar surat ijin pemakaman, jenazah Syahidah Asmaa Beltaji dibawa pulang oleh saudara-saudaranya dengan mobil ambulan ke rumah mereka yang berada di Nasr City, Kairo. Kenapa dibawa pulang? Karena banyak tetangga yang curiga bahwa kematian Asmaa hanyalah isu yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik Ikhwan.

Begitu sampai di rumah, mereka pun benar-benar meminta supir ambulan untuk memarkir mobil di tengah jalan. Akhirnya Ammar, saudara Asmaa, membuka pintu mobil supaya orang-orang itu yakin bahwa yang berada di dalam mobil itu adalah benar- benar jenazah Asmaa. Ammar mempersilahkan, “Ayo, siapa yang mau lihat … Siapa yang masih ragu kalau jenazah ini benar-benar Asmaa. Asmaa benar-benar sudah meninggal.”

Orang-orang itu pun masuk ke mobil secara bergantian. Setiap orang yang keluar dari mobil, selalu terlihat kecewa karena selama ini termakan media bahwa Ikhwan menyebarkan isu kematian putera-puteri pimpinan mereka untuk kepentingan- kepentingan politik. Begitulah fasisme telah menyebar di Mesir. Di saat keluarga dan kerabat Asmaa berkabung, bukan ucapan nasihat dan kesabaran yang mereka terima. Mereka malah dituduh telah menyebarkan isu dan mempolitisirnya. (msa/dkw)

Dan dibawah ini adalah surat yang membuat seorang Erdogan menangis, Karena Erdogan adalah manusia yang juga seorang ayah.

Putriku tercinta dan guru yang tak ternilai Asmaa al-Beltaji, saya tidak mengucapkan selamat tinggal kepadamu, saya katakan besok kita akan bertemu lagi.

Engkau telah hidup dengan kepala terangkat ke atas, melakukan perlawanan terhadap tirani dan belenggu dan mencintai kebebasan. Dengan diam engkau telah hidup sebagai seorang pencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini sehingga mereka mempunyai tempat yang layak di antara peradaban.

Engkau tidak pernah menyibukkan diri dengan apa yang orang-orang seusiamu sibuk melakukannya. Meskipun pendidikan tradisional gagal memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu, engkau selalu menjadi yang terbaik di dalam kelas.

Saya tidak memiliki cukup waktu yang berharga dalam hidup yang singkat ini, terutama waktu-waktu yang dihabiskan bersamamu. Terakhir kali kita duduk bersama di kamp Rabaa al-Adawiyah, engkau mengatakan kepadaku: “Bahkan ketika ayah bersama kami, ayah sibuk” dan saya katakan : “tampaknya kehidupan ini tidak cukup untuk kita nikmati bersama, jadi saya meminta kepada Alloh agar kita bisa menikmatinya di surga”.

Dua malam sebelum engkau dibunuh, saya melihatmu dalam mimpi mengenakan gaun pengantin putih dan engkau terlihat begitu anggun. Ketika engkau duduk di sampingku, aku bertanya: “Apakah ini malam pernikahanmu?” Engkau menjawab: “Tidak bukan malam ini, tapi sore.”

Ketika mereka bilang engkau dibunuh pada Rabu sore, aku mengerti apa yang engkau maksud dan aku tahu Alloh telah menerima jiwamu sebagai syuhada. Engkau telah memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita dalam kepalsuan.

Yang membuatku sakit adalah aku tidak bersamamu di saat terakhirmu dan aku tidak bisa melihat dan mencium dahimu untuk terakhir kalinya dan mendapat kehormatan melakukan sholat jenazah untukmu. Bukan, bukan karena aku takut untuk hidup di penjara atau terbunuh, tetapi engkau harus tahu bahwa aku tidak di sana untuk menyelesaikan revolusi ini, untuk menang dan mencapai tujuannya.

Jiwamu telah diangkat dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru telah memukul dadamu. Ada tekad dan jiwa yang besar dalam dirimu. Aku percaya bahwa engkau setia pada janji Alloh dan Dia pun setia kepada janji-Nya untukmu. Itulah mengapa bukan kami yang diberikan syahid ini, melainkan engkau.

Putriku dan guruku tercinta ... ... ...

Saya tidak akan mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan para sahabatnya di tepi kolam Surga Kautsar dan itu adalah pertemuan dimana kita bisa memliki satu sama lain.
HANYA RANGKAIAN DO'A DAN SENANDUNG NASYID UNTUK KALIAN


Sabtu, 19 Januari 2013

RANGKAIAN ACARA 4th BOGOR ISLAMIC BOOK FAIR 2013

Berikut adalah jadwal acara 4th Bogor Islamic Book Fair yang akan berlangsung selama 10 hari yang di mulai hari Jum'at 8 Februari 2013 sampai Ahad 17 Februari 2013. Event besar ini diselengarakan oleh Syakaa Organizer dan Ilma Super Youth di Plaza Masjid Raya Bogor Jl Pajajaran, Bogor, Jawa Barat.

Ayo... Mulai kumpulin uang buat berburu buku disana, dateng ramai-ramai yaahhhh.....
Jum'at, 8 Februari 2013
13.00 – 14.00 Opening Ceremony 4th Bogor Islamic Book Fair
14.00 – 15.00 Penampilan Kesenian Sunda
16.00 – 18.00 Talkshow Bisnis Online : “Prospek dan Menggiurkan” Pembicara : David Putra (Pengusaha Online dan Owner RWP Group) dan Hepi Andi Bastoni (Penulis Mancanegara)
19.00 – 20.30 Nonton Bareng Film

Sabtu, 9 Februari 2013
09.00 – 10.30 Launching Buku “Fun Hypnosis With Magic” bersama Richard Afandi, CI (Trainer IBH)
10.30 – 12.00 Seminar “Menyembuhkan Penyakit Psikologi dan Medis Tanpa Obat” metode EFT bersama Yono Suryatno, S.Si (Trainer APEI)
13.00 – 15.00 Seminar Sinematografi bersama IMAGO
16.00 – 18.00 Kiat Dahsyat Memaksimalkan Potensi Otak Anak Melalui Metode Maestro Brain Power bersama Fauzan Ahmad (Direktur PT. Maestro Motivasi Indonesia)
19.00 – 20.30 Nonton Bareng Film

Ahad, 10 Februari 2013
09.30 – 12.00 Launching Buku “Dibalik Fatwa Kontroversional Yusuf al-Qardhawi” Pembicara : KH Dr Taufiq Hulaimi, MA, M.Ed (Direktur Ma’had An-Nuaimi) dan Ust Hepi Andi Bastoni, Lc, MA (Penulis Buku)
13.00 – 15.00 Talk Show dan Konser Mini “EDCOUSTIC”
16.00 – 18.00 Bedah Buku Ada Surga di Rumahmu “7 Keajaiban Orang Tua” karya Ust Ahmad Al-Habsyi bersama Ust Atik Fikri Ilyas (co Writer Buku ASDR)
19.00 – 20.30 Nonton Bareng Film

Senin, 11 Februari 2013
08.30 – 12.00 Lomba Stand UP DAI “Sampaikan Kebaikan Walau Satu Ayat” bersama JPRMI Info Pendaftaran Neni 0856-9321-0599 atau 0857-1806-3600
13.00 – 18.00 Festival Marawis Se-Bogor Raya bersama JPRMI dan Baitul Jannah Info Pendaftaran Erwan 0856-7740-106 atau Fillah 0856-7696-456
19.00 – 20.30 Nonton Bareng Film

Selasa, 12 Februari 2013
09.30 – 12.00 Pelatihan Origami bersama Komunitas Origami
13.00 – 15.00 Talkshow “Hakikat Sihir, Kesurupan dan Terapinya” bersama Ust Munawir (Rumah Sehat)
16.00 – 18.00 Seminar Parenting “Pendidikan Akhlak dan Bakat” bersama Edukonsul, Ust Muhammad Ferous (Konsultan Sekolah)
19.00 – 20.30 Nonton Bareng Film

Rabu, 13 Februari 2013
08.00 – 12.00 Tabligh Akbar: Ust. Abdullah Gymnastiar bersama DKM Masjid Raya Bogor
13.00 – 15.00 Launching Buku “High Voltage Public Speaking (Sukses Berbicara di Depan Umum dengan Aktivasi Otak Kanan) bersama Krishadi Nugroho
16.00 – 18.00 Talkshow “Mengungkap Sepak Terjang Densus 88” bersama Media Islam
19.00 – 20.30 Nonton Bareng Film

Kamis, 14 Februari 2013
09.30 – 12.00 FOS ARMI Anti Mamon: Tribute to Rasulullah SAW (Penampilan Akustik, Puisi dan Orasi)
13.00 – 15.00 Seminar Sukses Memasuki Perguruan Tinggi Negeri bersama I’am Smart
16.00 – 18.00 R-Factor Rohis se-Kota Bogor bersama Forum Silaturahmi Rohis Bogor dan Rumah Rohis
19.00 – 20.30 Nonton Bareng Film


Jum'at, 15 Februari 2013
08.30 – 11.30 Pelatihan Mendongeng Bersama Sygma Info Pendaftaran Ka Ito 0815-1945-9837 atau Ka Dian 0858-1015-8233
13.00 – 15.00 Talkshow “Bentengi Diri dari Bahaya SIPILIS” bersama #Indonesia Tanpa Jil Narasumber : Akmal Sjafril
16.00 – 18.00 Belajar Bahasa Arab Mudah dan Cepat Metode AFLAT Bersama Ust Zamroni (Pimpinan Pesantren Al-Mushaf)
19.00 – 20.30 Nonton Bareng Film

Sabtu, 16 Februari 2013
10.00 – 15.00 Training Motivasi Al-Qur’an (Di Ruang BAZ) bersama Sygma Pendaftaran hub Ka Ito 0815-1945-9837
09.30 – 12.00 Talkshow Remaja Muslim #udahputusinaja bersama Felix Siauw
12.30 – 15.30 Lomba Mendongeng bersama Sygma Publishing Info Pendaftaran Ka Ito 0815-1945-9837 atau Ka Dian 0858-1015-8233
16.00 – 18.00 Talkshow “Mari Cinta Al-Qur’an” bersama PPPA Darul Qur’an
19.00 – 20.30 Bedah Buku “Lebih Barokah Tanpa Pacaran” bersama Ust Monif Yuhibbu Rasulullah (Pengasuh Ponpes Tahfidz Yatim dan Dhuafapreneur Ikhwah Fillah Semarang, Dewan Pendiri dan Ketua Umum Lingkar Penulis Santri)
 
Ahad, 17 Februari 2013
10.00 – 12.00 Talkhsow “Menuju Kebangkitan Islam” pembicara : Dr. Muhammad Sarbini, M.H.I
13.00 – 18.00 Konser Nasyid Kemanusiaan, Orasi Dr Muqodam Kholil, MA dan Pemutaran Film bersama KNRP menghadirkan Izzatul Islam dan Tim Nasyid BNC
19.00 – 20.30 Pembagian DOORPRIZE

Sabtu, 29 Desember 2012

HARAPAN DELISA SANG PENAKLUK TSUNAMI ACEH 2004

"Mak, kaki adik mana? Kaki adik mana?" ratap Delisa Fitri Rahmadani, setiap tengah malam. Rintihan Delisa yang dirawat di Rumah Sakit (RS) Kesdam Banda Aceh itu begitu menyayat batin ayahnya, Bachtiar (55) yang setia menunggui putri tercinta. "Hampir setiap malam dia menangis seperti itu," ujar Bachtiar.
Itulah ratapan asli Delisa yang sebenarnya ketika tersadar di rumah sakit 8 tahun yang lalu (2004).

Mungkin kita masih ingat nama itu .... Delisa. Banyak orang mengira bahwa sosok gadis cilik ini hanyalah rekaan Tere Liye sang penulis novel. Ya, apalagi setelah novel "Hafalan Shalat Delisa" diangkat ke layar lebar pada tahun 2011 oleh produser Chand Parwez Servia dan sutradara Sony Gaokasak. Kisahnya tentang Delisa, gadis cilik yang tinggal di Desa Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar.

Dalam film tersebut Delisa digambarkan sebagai bungsu dari empat bersaudara yang periang dan manja. Saat tsunami terjadi semua keluarganya meninggal; ibu, dan ketiga kakaknya. Kecuali ayahnya yang saat itu bekerja di kapal tanker perusahaan minyak internasional.

Tsunami (atau dalam bahasa Simeulue disebut smong) juga merenggut sebelah kaki Delisa sehingga harus diamputasi. Setelah itu ia terpaksa menggunakan tongkat untuk berjalan. Tak lama setelah tsunami ayahnya pulang. Delisa kemudian menjalani hari-harinya dengan sang ayah. Delisa sempat frustasi menyadari kehilangan ini. Ia sedih. Namun akhirnya dengan dukungan ayah dan teman-temannya ia bangkit, menginsyafi bahwa semua peristiwa adalah kehendak Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Dahsyatnya, Delisa kemudian kembali bersemangat untuk menuntaskan hafalan shalatnya yang belum sempurna.
Tapi namanya film tentu tidak sama persis dengan aslinya. Yang pasti Delisa benar-benar korban gelombang ganas tsunami 26 Desember 2004. Kisahnya nyaris sangat mirip dengan Delisa-nya Darwis Tere Liye. Bedanya Delisa yang asli ini bukan penduduk Lhok Nga. Delisa yang ini bernama lengkap Delisa Fitri Rahmadani. Ia biasa dipanggil Delisa. Kakinya telah diamputasi karena diterjang tsunami. Gadis yang memakai baju putih dan rok berwarna coklat tersebut lahir di Ulee Lheue Banda Aceh, 15 Desember 1997 silam.
 
Di acara refleksi delapan tahun tsunami Aceh yang digelar Forum Lintas Komunitas di Museum Tsunami Aceh kemarin siang (26/12), Delisa menjadi pusat perhatian. Banyak yang meminta tanda tangan padanya, ada juga yang minta foto bersama. Sebelumnya Delisa tampil di hadapan seluruh pengunjung untuk berbagi kisahnya hingga selamat saat tsunami.

Dengan bantuan tongkat gadis itu berdiri di tengah panggung. Kedua bola matanya terlihat berair. Dari mulutnya cerita demi cerita tentang peristiwa tsunami delapan tahun silam mengalir. Sesekali ia terlihat berhenti bercerita. Kadang suaranya terdengar terputus-putus, terutama saat menyebut ibunya.

Saat itu katanya ia masih berusia 8 tahun lebih 15 hari. Ia masih duduk di kelas 2 MIN Ulee Lheue Banda Aceh. Saat musibah tersebut ia kehilangan ibunya Salamah, dan juga ketiga saudara kandungnya. Ia juga kehilangan anggota tubuhnya, yaitu kaki sebelah kanannya yang harus diamputasi.
“Waktu itu kaki saya sudah membusuk. Telapak kaki sudah terkikis dan nampak tulangnya. Selama tiga hari setelah tsunami kaki saya hanya diberi betadine saja. Perihpun sangat luar biasa, melihat kondisi saya yang seperti itu, salah satu relawan mengatakan bahwa ada dokter dari Australia di Rumah Sakit Fakinah. Relawan itu juga bilang kamu harus terima apapun nanti hasilnya, saya pun siap dioperasi pada hari kelima,” ujarnya di atas panggung.

Kini Delisa menjalani hari-harinya dengan bantuan tongkat dan kaki palsu. Ia tinggal bersama ayahnya Bakhtiar, dan seorang abangnya yang selamat. Ia kini sekolah di SMK 5 Telkom Banda Aceh dan masih kelas satu. Delisa adalah remaja yang penuh semangat dan energik, saat masih SMP ia juga pernah mendapat juara umum. Gadis itu juga pandai memainkan alat musik keyboard.
 
“Saya berterima kasih kepada Alloh yang telah mengambil kaki saya, di luar sana banyak Delisa-Delisa lain yang mungkin lebih dari saya,” ujarnya.
Kelak Delisa ingin menjadi pemain musik dan pengarang buku. Ia juga ingin membuat komunitas untuk anak-anak cacat. 

Subhanallah. Dua jempol untuk semangat bangkit Delisa dan kawan-kawan!
Do'a kami untuk kalian......

Minggu, 02 Mei 2010

AKU HERAN


Aku heran…
Hari gini masih ada aja yang mukul-mukul anak. Serem banget. Aku berpikir bagaimana psikis anak itu nanti… di sekolah… Hal itu yang sering membuat seorang anak jadi nakal… males belajar.

Terlepas dari nakal atau tidak anak itu, seharusnya mereka gak berhak memperlakukan dia seperti bukan perlakuan orang tua kepada anaknya…

“Wah… wah… gak mau… gak mau…”
Udah, sini… dasar anak bandel… udah gak usah sekolah sekalian…
(seorang ibu menarik tas sekolah anaknya, anaknya mencoba mempertahankan tas itu)
Biar buang aja sekalian (Ibu melempar tas ke jalan) sang anak mengejar dan memungut tas.
Ngapain di ambil, bukannya kamu gak mau sekolah, sini buang aja yang jauh… (sekarang bapaknya ikut memarahi si anak, terjadi lagi perebutan tas hingga tas anak itu, copot talinya…) “Bapak jangan…!!!”
Suing….. (tas dilempar ke kebon di depan jalan rumah, tambah keraslah jeritan anak itu) orang-orang yang melihatnya… hanya diam terpaku atau tetap jalan seperti angin lalu.
“biarin anak bandel…” BUG!! Pukulan sandal mendarat tepat dipaha bagian belakang anak itu, semakin menjadilah… tangis anak itu…”

Heran.. heran…
Sebel banget gak sih… lihat tingkah orang tua kayak gitu… bener-bener sok TUA!.. seharusnya mereka berkaca dulu sebelum memarahi anaknya. Kenapa si anak bisa seperti itu. Emangnya dengan kekerasan bisa memecahkan masalah… Gimana si anak bisa ngembangin potensi, gimana anak mo belejar dengan senang, gimana anak mo… SUMPEH… munculnya generasi unggul sulit terjadi bila orang tua seperti itu!!

“Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang”

Di jalanan kami sandarkan cita-cita
Sebab di rumah tiada lagi yang bisa dipercaya… hiks…

Orang tua anggaplah kami sebagai manusia.
Kami bertanya tolong dong jawab dengan cinta

Fulana… anaknya menggemas kan… sekilas. Tapi saat lebih banyak berinteraksi… MasyaAllah… bikin pusing kepala, dada berdebar-debar, gigi cekot-cekot. Bicaranya sangat sulit dijaga segala penghuni ragunan dan anatomi tubuh kerap keluar dari mulutnya. Ketika diajak bicara ia akan mendengar tapi entah seperti apa kupingnya hingga saat orang berbicara, orang itu akan merasa dihargai tapi sejenak ia selesai bicara maka Fulana akan bertingkah seperti tidak pernah mendengar ucapan orang tersebut.
Ada apa gerangan si Fulana...???

Sabtu, 01 Mei 2010

DAKWAH KELUARGA HARUSLAH YANG UTAMA

Keluarga adalah obyek dakwah yang harus mendapat perhatian serius dari setiap muslimah. Bila untuk proyek-proyek dakwah lainnya perlu penyusunan proposal hingga detil langkah implementasinya, mengapa tidak dalam keluarga?
Sebagai unit sosial yang paling kecil, keluarga sangat menentukan warna dan corak anggota keluarga lainnya. Ia merupakan wadah pertama pembentukan sumber daya manusia dan dari keluargalah lahir generasi penerus yang akan meneruskan dakwah Islam sebagaimana cita-cita orangtuanya.

Proyek laboratorium peradaban
Husain Muhammad Yusuf dalam bukunya Ahdaf al-Usrah Fil Islam menjelaskan, keluarga adalah batu pertama dalam membangun negara. Menurutnya, sejauh mana keluarga dalam suatu negara memiliki kekuatan dan ditegakkan pada landasan nilai , maka sejauh itu pula negara tersebut memiliki kemuliaan dan gambaran moralitas dalam masyarakatnya.
Penghargaan Islam pada masalah-masalah keluarga sangatlah tinggi. Betapa tidak, keluarga adalah unit yang paling mendasar diantara unit-unit pembangunan alam semesta. Di antara fungsi besar dalam keluarga adalah edukatif (tarbiyah). Dari keluarga inilah segala sesuatu tentang pendidikan bermula. Apabila salah dalam pendidikan awalnya, maka peluang akan terjadinya berbagai penyimpangan pada anak akan semakin tinggi. Oleh kerena itu, pada dasarnya Islam menjadikan tarbiyah sebagai atensi yang dominan dalam kehidupan.

Abdul Ala' al-Maududi Ulama asal Pakistan, mengartikan kata tarbiyah sebagai mendidik dan memberikan perhatian.
Setidaknya ada empat unsur penting dalam pendidikan. Pertama, menjaga dan memelihara fitrah obyek didik. Kedua, mengembangkan bakat dan potensi obyek sesuai dengan kekhasannya masing-masing. Ketiga, mengarahkan potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan. Keempat, seluruh proses tersebut dilakukan secara bertahap. Keempat unsur tersebut menunjukan pentingnya pentingnya peran pendidikan dalam keluarga. Karena keluarga akan membentuk karakter kepribadian anggotanya dan mewarnai masyarakatnya. Singkatnya keluarga merupakan laboratorium peradaban. Bagi muslimah, yang secara umum penanggungjawab utama dalam kehidupan keluarga, harus menyiapkan keseriusan dan kepurnaan program pengembangan dakwah keluarga.

Abdullah Nasih Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Awlad Fil Islam, ada 7 macam pendidikan integratif, yang harus terintegrasikan secara sistemikdalam keluarga untuk mentarbiyah anggota keluarga untuk menjadi hamba Allah yang taat, yang mampu mengemban amanah dakwah ini. Ketujuh pendidikan tersebut adalah:
Pendidik iman merupakan pondasi yangt kokoh bagi semua bagian pendidikan. Pendidikan moral akan menjadi bingkai kehidupan manusia, setelah memiliki landasan kokoh berupa iman. Disaat budaya masyarakat menyebabkan degradasi moral, maka penguatan moralitas melalui pendidikan keluarga menjadi semakin signifikan manfaatnya.
Pendidikan psikis membentuk berbagai karakter positif kejiwaan seperti keberanian, kejujuran, kemandirian, kelembutan, sikap optimistik dan lain sebagainya.Karakter akan menjadi daya dorong manusia melakukan hal-hal terbaik bagi urusan dunia dan akhiratnya.
Pendidikan fisik tidak kalah penting. Dalam keluarga tumbuh kembang seorang anak terpantau. Gaya hidup sehat dapat dibangun dalam keluarga, seperti mengkonsumsi makanan yang halal dan baik, serta berolahraga. Proses ini sangat penting dalam menyiapkan kekuatan fisik agar tubuh menjadi sehat dan kuat.
Pendidikan intelektual harus dilakukan dalam keluarga sejak dini. Karena peradaban masa depan umat akan tergantung pada kapasitas intelektual generasi muda.

Anggota keluarga harus memiliki kecerdasan yang memadai karena mereka akan bersaing dalam era globalisasi.
Peran sosial bermaksud menumbuhkan kepribadian sosial anggota keluarga agar mereka memiliki kemampuan bersosialisasi dan menebarkan kontribusi positif bagi upaya perbaikan masyarakat. Dalam hal ini menunbuhkan keterikatan hati anak-anak dengan mesjid adalah salah satu aspek yang perlu ditanamkan sejak dini. Sedangkan peran sosial saat ini telah terancam virus individualistikyang telah merasuki sebagian besar masyarakat.
Pendidikan seksual diperlukan untuk membangun kesadaran anggota keluarga terhadap peran dan tanggungjawabnya berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Selain pengajaran tentang kesadaran peran tersebut, juga perlu ditekankan tentang pengetahuan, sikap dan perilaku yang benar dalam permasalahan kesehatan reproduksi. Bukan hanya kepada anak perempuan tetapi juga kepada anak laki-laki.

Sedangkan pendidikan politik dalam keluarga diperlukan untuk membangun kesadaran dan membangun kemampuan anggota keluarga dalam menyikapi berbagai persoalan politik yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat.

Upaya yang dapat dilakukan seorang muslimah dalam menyusun proyek dalam keluarga:
1. Alokasikan waktu bersama suami untuk membangun rencana strategis keluarga, yang dibagi dalam tujuh proyek dakwah keluarga untuk jangka waktu lima tahun.

2. Buatlah turunan dari rencana tersebut untuk program tahunannya. Jangan lupa untuk menunjuk penanggungjawab setiap program. Sosialisasikanlah kepada pihak-pihak terkait , seperti pembantu, keluarga yang tinggal serumah.

3. Lakukan evaluasi dan masukan bagi perbaikan pelaksana program selanjutnya

(Sarah Handayani)