CHOOSE YOUR LANGUAGE:

CHOOSE YOUR LANGUAGE:

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label DZULHIJJAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DZULHIJJAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Oktober 2013

FADHILAH 10 HARI PERTAMA DZULHIJJAH SUNGGUH LUAR BIASA

Insya Alloh bulan Dzulhijjah segera tiba, Dzulhijjah merupakan salah satu bulan teristimewa bukan saja bagi para jamaah haji dan umrah di Tanah Suci. Melainkan juga bagi seluruh kaum muslimin dimanapun berada. Karena sepuluh hari pertama bulan haram (bulan mulia) yang satu ini dan yang sekaligus merupakan bulan pelaksanaan ibadah rukun Islam kelima, adalah merupakan sepuluh hari termulia sepanjang tahun. Dimana kemuliaan, keutamaan dan keistimewaannya bahkan bisa mengungguli kemuliaan, keutamaan dan keistimewaan hari-hari bulan suci Ramadhan yang baru saja meninggalkan kita. Ini tentu saja sebuah rahmat dan karunia spesial dari Alloh yang tak terukur nilainya. Dan hanya orang-orang merugi yang terjauhkan dari rahmat Alloh sajalah yang menyia-nyiakan dan melewatkan begitu saja momentum luar biasa seperti ini! Semoga kita tidak termasuk di dalamnya!

Maka kepada seluruh jamaah haji, kami ucapkan: Selamat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan setotal-totalnya demi meraih haji mabrur yang berdasar hadits muttafaq ‘alaih pasti berbalas Surga. Dan kepada semua kaum muslimin non jamaah haji, juga tak lupa kami ucapkan: Selamat ber-fastabiqul khairat (berlomba amal kebaikan) khususnya dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah 1434 nanti, yang menurut kalender Indonesia dan juga kalender Ummul Qura di Mekkah, hari pertamanya insyaallah akan jatuh pada hari Ahad tanggal 6 Oktober 2013. Dimana jika seseorang mampu mengoptimalkan upaya amal saleh dengan beragam macamnya di dalamnya, maka sangat dimungkinkan iapun bisa menggapai kemuliaan derajat di sisi Alloh dan kelipatan pahala dari-Nya, seperti yang didapat oleh jamaah yang sukses dengan hajinya, atau bahkan mengunggulinya.

Mungkin ada yang terheran-heran dan bertanya: Benarkah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah semulia itu sampai bahkan mungkin bisa mengungguli kemuliaan hari-hari bulan Ramadhan, atau minimal setara dengannya? Mengapa hal itu sepertinya tidak begitu dikenal di tengah-tengah mayoritas ummat Islam, sehingga karenanya sikap merekapun biasa-biasa dan datar-datar saja, tanpa ada yang tampak istimewa seperti yang umumnya ditunjukkan dalam menyambut bulan suci Ramadhan?

Nah untuk menjawab pertanyaan diatas, mari kita cermati bersama sabda Baginda Sayyidina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (yang artinya) berikut ini: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
”Tiada hari, dimana beramal shalih padanya lebih Alloh cintai selain hari-hari ini”, yakni 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah. Para shahabat bertanya: wahai Rasulullah, apakah termasuk jihad fi sabilillah juga tidak bisa (menandingi)?, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Termasuk jihad fi sabilillah sekalipun tidak bisa (menandingi), kecuali seorang lelaki yang pergi berjihad dengan jiwa dan hartanya sendiri lalu tidak ada sesuatupun darinya yang kembali, yakni sampai gugur sebagai syuhada’” 
(HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Mari perhatikan, demikian tingginya tingkat kemuliaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut, sampai-sampai jihadpun bisa kalah dalam derajat dan nilai pahala bila dibandingkan dengan amal shaleh apapun, sekali lagi amal shaleh apapun, yang dilakukan oleh seorang hamba muslim pada hari-hari tersebut. Padahal kita semua tahu, betapa tinggi nilai jihad fi sabilillah di dalam Islam dan derajat mujahid di sisi Alloh Ta’ala. Tapi toh hanya ada satu kondisi mujahid saja yang derajat dan nilai pahala jihadnya bisa mengungguli amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah, yang memang merupakan puncak derajat seorang mujahid di jalan Alloh. Yaitu seorang mujahid yang memenuhi 3 kriteria: 
pertama, ia berangkat sendiri ke medan jihad; 
kedua, seluruh perbekalan jihadnya dari harta miliknya sendiri; dan 
ketiga, ia berjihad sampai gugur sebagai syuhada. 

Sehingga jihad seorang mujahid yang sampai mati syahid tapi perbekalan jihadnya dari harta orang lain, atau mujahid yang berangkat jihad dengan diri dan hartanya sendiri namun tidak sampai gugur sebagai syuhada, atau bahkan yang berjihad dengan diri dan hartanya sendiri, serta mati syahid, akan tetapi masih ada dari perbekalan jihadnya, misalnya pedangnya atau baju besinya, atau kudanya dan lain-lain, yang masih bisa dibawa pulang kembali dari medan laga jihad. Ya semua kondisi mujahid yang pasti sangat luar biasa keistimewaannya itu, tetap saja tidak bisa menandingi dan mengungguli keistimewaan, keutamaan dan kemuliaan amal saleh pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah seperti yang tengah kita lewati ini! ALLAHU AKBAR!

Mungkin karena begitu mulianya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut, maka Alloh Ta’ala sampai bersumpah dengannya, dalam firman-Nya (yang artinya): “Dan demi malam-malam yang sepuluh” (QS. Al-Fajr 89: 2), yang menurut Imam Ibnu Katsir dan jumhur mufassir lain rahimahumullah, maksud tafsirnya yang benar adalah 10 malam pertama bulan Dzulhijjah.

Dan ada satu dalil kuat lagi yang bisa menjadi faktor penegas luar biasanya keistimewaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Yakni bahwa, para ulama sampai berselisih pendapat tentang mana yang lebih mulia, utama dan istimewa antara 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan 10 malam terakhir bulan Ramadhan yang di dalamnya terdapat malam lailatul qadar. Dimana sebagian ulama berpendapat bahwa, 10 hari dan malam pertama Dzulhijjah yang lebih mulia, dan sebagian yang lain mentarjih bahwa, 10 malam dan hari terakhir Ramadhanlah yang lebih istimewa. Dan pendapat yang lebih rajih, kuat dan tepat insya Alloh adalah yang memadukan antar dalil keduanya. Dimana untuk waktu malamnya, 10 malam akhir Ramadhan adalah yang paling utama sepanjang tahun bila dibandingkan dengan semua malam yang lain termasuk 10 malam pertama bulan Dzulhijjah. Sementara itu untuk waktu siangnya, 10 hari pertama Dzulhijjah adalah yang termulia dibanding seluruh hari yang lainnya termasuk hari-hari bulan Ramadhan seluruhnya.

Oleh karena itu semua, seharusnya sikap kita dalam mengistimewakan hari-hari termulia ini dengan amal-amal yang serba istimewa, utamanya untuk waktu siangnya, minimal seperti dan setara dengan sikap pengistimewaan kita terhadap bulan suci Ramadhan setiap tahun. Jika demikian, lalu apa sikap yang harus kita tunjukkan dan amal serta ibadah apa sajakah yang sebaiknya kita kerjakan dalam upaya mengistimewakan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini? Berikut ini disebutkan beberapa poin sekadar sebagai pengingat, semoga bermanfaat:

1. Hal pertama yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam konteks ini adalah, menumbuhkan, menjaga dan meningkatkan keyakinan, kesadaran serta perasaan akan mulia, utama dan istimewanya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini.

2. Memiliki dan menyimpan kejujuran niat, kesungguhan tekad dan ketinggian semangat untuk benar-benar mengistimewakan hari-hari teristimewa ini dengan bermacam ragam amal dan ibadah yang serba istimewa, demi mengharap derajat taqwa dan nilai pahala nan istimewa pula. Serta bermujahadah sebisa mungkin untuk tidak melewatkan sedikitpun dari waktu-waktunya secara sia-sia.

3. Menguatkan dan meningkatkan kepekaan rasa kewaspadaan keimanan, dengan senantiasa berupaya keras untuk menghindarkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan dan pelanggaran syar’i pada hari-hari termulia tersebut, baik dalam bentuk meninggalkan kewajiban maupun dengan melakukan yang dilarang dan diharamkan.

4. Karena amal yang diistimewakan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, berdasar hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma diatas, tidak dibatasi pada jenis amal tertentu, maka pada prinsipnya amal atau ibadah apapun, sekali lagi amal saleh dan ibadah apapun, baik yang bersifat ritual, sosial maupun lainnya, sesuai situasi, kondisi, kebutuhan dan kesanggupan masing-masing kita, bisa saja dilakukan dan sekaligus berpotensi untuk menjadi amal yang paling dicintai oleh Alloh Ta’ala, yang tentu saja berarti akan bernilai pahala super istimewa tiada tara. Dan itu meliputi (sekadar contoh) misalnya: shalat, zakat, infak, sedekah, dakwah, mencari nafkah, menuntut ilmu atau mengajarkannya, juga membaca Al-Qur’an, mempelajarinya dan mengajarkaannya, berdzikir, beristighfar dan berdoa, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahin dengan keluarga dan lainnya, membantu sesama, berbagi hikmah dan kebajikan dimana serta kepada siapa saja, dan seterusnya dan seterusnya.

5. Jika amal yang lebih diutamakan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah ibadah-ibadah spesial malam hari, seperti qiyamullail atau tahajjud, tadarus Al-Qur’an, itikaf, dzikir, doa, munajat, istighfar, dan semacamnya, maka yang lebih diistimewakan pada 10 hari pertama Dzulhijjah ini adalah jenis-jenis amal ibadah spesial siang hari, dan salah satu yang paling utama tiada lain adalah ibadah puasa. Maka disunnahkan dan dianjurkan agar setiap muslim memperbanyak puasa pada 10 hari ini, tentu saja kecuali tanggal 10-nya yang merupakan hari raya Idul Adha, dan yang memang diharamkan puasa padanya. Namun untuk ibadah puasa ini terbagi dua, yakni yang berifat umum dan khusus. Yang umum adalah puasa dari anggal 1 – 8 Dzulhijjah, dimana kesunnahannya tidak berdasarkan dalil khusus, melainkan mengacu pada keumuman hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dimuka, dimana setiap amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah adalah yang paling dicintai oleh Alloh Ta’ala. Dan sudah barang tentu ibadah puasa menempati peringkat utama dan istimewa dalam daftar amal saleh yang disebutkan itu. Apalagi, seperti yang telah disebutkan, yang lebih utama dari 10 hari pertama Dzulhijjah itu adalah waktu siangnya, dan puasa merupakan salah satu jenis amal ibadah spesial siang hari yang teristimewa. Oleh karenanya dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi rahimahullah menulis bab khusus dengan judul: Fadilah Puasa dan Amal-amal Lain Pada 10 Hari Pertama Dzulhijjah, lalu beliau menyebutkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, yang telah dikutip dimuka. Adapun puasa yang bersifat khusus dengan dalil khusus dan fadilah khusus pula, adalah puasa hari Arafah, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah. Dimana saat ditanya tentang fadhilah dan keutamaan puasa hari wuquf di Arafah (bagi selain jamaah haji), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 
“Ia bisa menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah berlalu dan (dosa) satu tahun lagi yang akan datang” (HR. Muslim dari sahabat Abu Qatadah radiyallahu ‘anhu).

6. Memperbanyak kumandang takbir, tahlil dan tahmid dengan suara keras di rumah-rumah, masjid-masjid, jalan-jalan, pasar-pasar dan lain-lain, pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): 
“Tiada hari yang lebih agung bagi Alloh, dan amal saleh padanya lebih dicintai oleh-Nya, dibandingkan 10 hari (pertama Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah padanya ucapan tahlil, takbir dan tahmid” (HR. Ahmad dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan dishahihkan sanadnya oleh Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah). 
Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan bahwa, sahabat Ibnu Umar dan Abu Hurairah dulu biasa pergi ke pasar pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah seraya mengumandangkan takbir, sehingga masyarakatpun bertakbir mengikuti takbir keduanya. Itu untuk tuntunan takbir yang bersifat umum. Adapun untuk praktik takbir yang bersifat khusus terkait dengan syiar hari raya Idul Adha, maka menurut jumhur ulama disunnahkan agar dilakukan mulai selepas shalat subuh pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai shalat asar hari terakhir tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah), dimana ucapan takbir dikumandangkan pada setiap usai shalat fardhu dan diutamakan pada pagi hari raya Idul Adha saat seseorang berangkat ke tempat shalat Ied.

7. Menyembelih hewan qurban, dengan motivasi utama sebagai sebuah bentuk ibadah ritual persembahan kepada Allah, bukti penghambaan dan syiar deklarasi kemurnian tauhid kepada-Nya, dan bukan dengan sekadar niat bersedekah daging. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): 
“Tiada satu amal pun yang dilakukan seseorang pada Yaumun-Nahr (hari raya qurban) yang lebih dicintai oleh Alloh daripada mengalirkan darah (hewan qurban yang disembelih). Maka berbahagialah kamu dengannya” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih).

8. Mengikuti shalat Idul Adha, dan mendengarkan khutbah seusainya. Adapun bagi kaum perempuan yang berhalangan, maka dianjurkan untuk tetap turut menghadiri penyelenggaraan shalat, meskipun tentu tidak boleh mengikutinya, melainkan untuk mendapatkan siraman rohani dan pencerahan ilmu dari khutbah yang disampaikan, serta sekaligus untuk turut menyemarakkan, memeriahkan dan meramaikan suasana hari raya sebagai momen kegembiraan ummat Islam dan syiar kebersamaan serta persatuan kaum muslimin. Sedangkan ketika hari raya qurban jatuh pada hari Jum’at, seperti yang akan datang ini, maka bagi yang mengikuti shalat Id diberi rukhshah (keringanan) untuk tidak menghadiri shalat Jum’at, dan cukup melakukan shalat dzuhur saja seperti hari-hari lain. Namun meskipun begitu, lebih baik baginya jika tetap turut menunaikan shalat jum’at bersama kaum muslimin yang mengadakannya. Sedangkan bagi penanggung jawab atau takmir masjid jami’, yakni masjid yang biasa didirikan shalat jum’at di dalamnya, diharuskan tetap menyelenggarakannya, agar bagi kaum muslimin yang ingin, bisa berkesempatan untuk menjalankannya. Karena saat terjadi shalat Idul Fitri pada hari Jum’at, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): 
“Telah berhimpun pada hari kalian ini dua hari raya. Barangsiapa yang ingin, maka (shalat Id) telah cukup baginya untuk mewakili shalat Jum’at. Namun kami tetap akan menyelenggarakannya” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Al-Hakim dan lain-lain, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

9. Dan last but not least, tentu saja amal ibadah paling agung dan tertinggi pada bulan Dzulhijjah ini, bagi yang mampu dan berkesempatan, tiada lain adalah ibadah haji dan umrah di Tanah Suci Mekkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): 
“Ibadah umrah satu ke umrah yang lain adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur itu tiada balasan baginya kecuali Surga” (HR. Muttafaq ‘alaih) 

H. Ahmad Mudzoffar Jufri, MA

Selasa, 09 November 2010

10 AMALAN YANG DISYARIATKAN DI AWAL BULAN DZULHIJJAH

Oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

ىور يراخبلا همحر هللا نع نبا سابع يضر هللا امهنع نأ يبنلا ىلص هللا هيلع ملسو لاق : ام نم مايأ لمعلا حلاصلا اهيف بحأ ىلإ هللا نم هذه مايألا – ينعي مايأ رشعلا - اولاق : اي لوسر هللا الو داهجلا يف ليبس هللا ؟ لاق الو داهجلا يف ليبس هللا الإ لجر جرخ هسفنب هلامو مث مل عجري نم كلذ ءيشب
Diriwayatkan oleh Al Bukhari Rahimahullah, dari Ibnu 'Abbas Ra bahwa Nabi Saw bersabda:
Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu: Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah?.
Beliau menjawab: Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun".
Imam Ahmad Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Ra, bahwa Nabi Saw bersabda:
Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid".

MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARIATKAN
1. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah.
Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain: sabda Nabi Saw:
ةرمعلا ىلإ ةرمعلا ةرافك امل امهنيب جحلاو روربملا سيل هل ءازج الإ ةنجلا
"Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga".

2. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut, Atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadits Qudsi:
موصلا يل انأو يزجأ هب ، هنا كرت هتوهش هماعطو هبارشو نم يلجأ
"Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku".
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Ra, Rasulullah Saw
bersabda:
ام نم دبع موصي ًاموي يف ليبس هللا ، الإ دعاب هللا كلذب مويلا ههجو نع رانلا نيعبس فيرخ
"Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun".
[Hadits Muttafaq 'Alaih]. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi Saw bersabda:
مايص موي ةفرع بستحأ ىلع هللا نأ رفكي ةنسلا يتلا هلبق يتلاو هدعب.
"Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya".

3. Takbir Dan Dzikir Pada Hari-Hari Tersebut.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala. ".... dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan ...". [al Hajj: 28].
Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Ra.
اورثكأف نهيف نم ليلهتلا ريبكتلاو ديمحتلاو
"Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid". [HR Ahmad].
Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Ra keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha', tabi'in bahwa pada hari-hari ini mengucapkan:
هللا ربكأ هللا ربكأ ال هلإ الإ هللا هللاو ربكأ هللو دمحلا
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu
"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala puji hanya bagi Allah".
Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah.
"Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu ...". [al Baqarah: 185].
Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do'a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain. Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah.
Seperti: takbir, tasbih dan do'a-do'a lainnya yang disyariatkan.

4. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.
Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah, dan keta'atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Ra, bahwasanya Nabi Saw bersabda.
نا هللا راغي ةريغو هللا نأ يتأي ءرملا ام مرح هللا يلع
"Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya" [Hadits Muttafaq 'Alaihi].

5. Banyak Beramal Shalih.
Berupa ibadah sunat seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al Qur'an, amar ma'ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

6. Disyariatkan Pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama'ah; bagi selain jama'ah haji dimulai dari sejak Fajar Hari Arafah dan bagi Jama’ah Haji dimulai sejak Dzhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.

7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari-hari Tasyriq.
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim As, yakni ketika Allah Ta'ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi Saw.
دقو تبث نأ يبنلا ىلص هللا هيلع ملسو ىحض نيشبكب نيحلمأ نينرقأ امهحبذ هديب ىمسو رّبكو عضوو هلجر ىلع امهحافص
"Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu". [Muttafaq 'Alaihi].

8. Dilarang Mencabut Atau Memotong Rambut Dan Kuku Bagi Orang Yang Hendak Berkurban.
Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Ra bahwa Nabi Saw bersabda.
اذإ متيأر لاله يذ ةجحلا دارأو مكدحأ نأ يحّض كسميلف نع هرعش هرافظأو
"Jika kamu melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya".
Dalam riwayat lain:
الف ذخأي نم هرعش الو نم هرافظأ ىتح يحضي
"Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban".
Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Allah.
"..... dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan...". [al Baqarah: 196].
Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.

9. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan
terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

10. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan Diatas.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

[Disalin dari brosur yang dibagikan secara gratis, tanpa no, bulan, tahun dan penerbit. Artikel dalam bahasa Arab dapat dilihat di http://www.saaid.net/mktarat/hajj/4.htm]