CHOOSE YOUR LANGUAGE:

CHOOSE YOUR LANGUAGE:

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Jumat, 15 Januari 2010

KEMATIAN DI UJUNG KULIT JERUK

Suatu hari Malaikat Maut diperintahkan Alloh untuk mencabut nyawa Nabi Musa as. Kedatangan "tamu istimewa" ini membuat Nabi musa pucat pasi. Begitu Malaikat Maut akan mencabut nyawa dari ujung kaki, Nabi Musa as bertanya: "Sampai hatikah engkau mencabut nyawaku dari kaki yang pernah digunakan untuk berjalan menuju gunung Tursina ketika turun firman-Nya?".

"Bagaimana jika dari tangan?".
Nabi Musa as menjawab, "Duhai utusan Alloh, lupakah engkau bahwa tangan ini pernah menerima lembaran syahifah suci yang berisikan firman-Nya?".

"Bagaimana jika dari kepala saja?," pinta Malaikat Maut.
"Ya Rabbul Izzati. Malaikat-Mu hendak mencabut nyawa hamba-Mu dari kepala ini. Padahal sepanjang hidup hamba menggunakannya untuk bersujud kepada-Mu?".

Karena tidak ada jalan lain akhirnya Malaikat Maut mengambil selembar kulit jeruk yang harum baunya. "Wahai Musa, hiruplah aroma kulit jeruk ini," perintah Malaikat Maut. Begitu aroma kulit jeruk ini terhisap, Nabi yang mulia ini pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Di antara seluruh manusia, kematian Nabi Musa as adalah kematian yang paling ringan dan paling mudah. Tapi sadarkah kita akan makna "mudah" dalam proses kematian Nabi Musa? Rasulullah saw bersabda, "Kematian Nabi Musa as sama kadar kegetirannya dengan penderitaan seseorang yang ditebas pedang sangat tajam sebanyak 300 kali".

Wallahu a'lam...

BACA JUGA YANG INI:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar